Vestiges – Rafif Saleh

Vestiges: Yang Tersisa dari Yang Unik

Apa yang sebenarnya kita lihat ketika menatap diri sendiri? Paras yang terus-menerus kita protes, lemak yang enggan minggat, atau seonggok balutan daging yang bernyawa? Tentu tidak jarang juga dari kita yang melihatnya sebagai kerangka yang kemudian diisi oleh lapisan ingatan, kebiasaan, dan jejak sosial, atau justru tubuh yang adalah milik kita sendiri, ruang untuk semua jejak itu bisa kita terima, tolak, bahkan ubah sesuai kehendak. Vestiges lahir dari ketegangan antara tubuh sebagai arsip habitus dan tubuh sebagai ruang keunikan diri.

Pameran tunggal Rafif Saleh dengan judul yang sudah disebut di atas menghadirkan dua medium: kanvas dan kertas, cat minyak dan cat air.

Karya berjudul Fractal Fragments terdiri dari tujuh seri kanvas dengan ukuran yang beragam dan menggunakan cat  minyak dengan teknik layering. Jika dilihat dari dekat, kanvas-kanvas ini hanya menampilkan lapisan kabut samar. Namun, ketika disusun bersama dan dipandang dari jarak tertentu, keseluruhannya membentuk figur tengkorak. Tengkorak, tentu saja, bukan simbol yang asing. Dalam subkultur underground ia adalah ikon lazim, penanda untuk hal-hal yang keras dan cadas. Sementara dalam sejarah seni, tengkorak juga lama menjadi motif vanitas, semacam peringatan akan kefanaan hidup. 

Namun, di tangan Rafif, ikon ini berubah arah. Tengkorak tidak lagi muncul sebagai citra yang lugas dan agresif, tetapi samar, berkabut, bahkan meditatif. Lapisan cat minyak yang ditumpuk berulang menghadirkan kedalaman yang tak bisa disentuh sekaligus. Ia hanya akan terbaca melalui hubungan antarbagian, sebagaimana identitas manusia terbaca melalui relasi pengalaman yang kompleks dan berlapis. Tengkorak yang biasanya identik visceral dan frontal, dihadirkan Rafif sebagai objek abstrak yang liris dan harmoni.

Selanjutnya, empat karya kertasnya melanjutkan logika ini, tetapi dengan pendekatan yang lebih intim. Rafif melukis kerangka manusia dengan cat air yang juga menggunakan warna monokromatik seperti karya kanvasnya–putih dan indigo–lalu mengisinya dengan detail-detail kenangan yang disusun secara acak dan cenderung tidak kronologis. Hal ini justru merepresentasikan bahwa ingatan manusia sering tumpang-tindih, kabur, kadang mencolok, kadang sepia, kadang pula monokrom, tetapi yang paling jelas adalah semua kompleksitas itu membekas. 

Apakah ini hanya soal nostalgia? Atau ada hal lain yang sedang bekerja? Dengan menghadirkan citra rontgen tubuh yang disusupi oleh memori personal, Rafif memperlihatkan bahwa identitas tidak hanya dibentuk oleh anatomi biologis, tetapi juga oleh pengalaman kultural, migrasi, dan relasi sosial yang melekat pada tubuh. Di sini kita bisa meminjam kacamata Pierre Bourdieu tentang habitus. Tubuh bisa dikatakan sebagai locus habitus: tempat bagi pengalaman sosial, sistem ekonomi, dan kebiasaan sehari-hari melekat, lalu membentuk cara kita berpikir, bergerak, dan merasakan. 

Dengan perspektif ini, lapisan cat yang berulang dalam kanvas Rafif bisa dilihat sebagai metafora bagi residu yang menumpuk di tubuh. Fragmen pohon sawit dan karet, kapal feri, dan potret sebuah keluarga dalam karya kertasnya bisa dibaca sebagai bagian dari habitus: jejak sosial-ekonomi yang tak bisa dipisahkan dari identitas. Dengan kata lain, tubuh dalam Vestiges bukan sekadar kerangka biologis, melainkan arsip yang menyimpan struktur sosial sekaligus pengalaman hidup individu.

Membaca karya Rafif dengan cara ini terasa penting karena muncul dari konteks yang sangat spesifik, alih-alih personal. Perantauannya dari Jambi ke Yogyakarta, lingkungan masa kecil yang terhubung dengan lanskap sawit dan karet, serta subkultur underground yang mengisi masa remajanya bukan sekadar latar belakang biografis. Semua itu adalah bagian dari medan sosial yang membentuk habitusnya. 

Rafif seperti sedang bermain-main dengan ikon yang biasa dibaca visceral dan frontal serta beberapa lainnya memento mori, yang justru tidak dia lekatkan pada jalur spektakel, provokasi, atau kekudusan. Dia menggeser tengkorak dan kerangka dari simbol keras menjadi ruang yang menyediakan banyak sekali kemungkinan yang saling berhadap-hadapan. Mungkin inilah posisi kritis Rafif. Menolak tubuh sebagai citra yang ‘selesai’, dan sebaliknya, menggunakannya sebagai medium untuk memperlihatkan bagaimana pengalaman sosial dan personal melekat, membentuk, juga membuka ruang tafsir baru.

Namun tentu ada pertanyaan lain: apakah individu kemudian hanyalah hasil dari habitus? Apakah tubuh kita hanya sekadar arsip dari struktur sosial yang menempel? Di sini suara Max Stirner menjadi penting. Dalam The Ego and Its Own, Stirner menolak generalisasi tentang ‘manusia’ dan menekankan keunikan individu yang tidak bisa digantikan atau direduksi, yang dia sebut Eigenheit. Bagi Stirner, tubuh pada akhirnya adalah properti kita, ruang intim untuk kita berdaulat. 

Dari kacamata Stirner, karya Rafif dapat dibaca sebagai perayaan bahwa tubuh adalah ruang otonom. Tengkorak mungkin tampak sama di mata semua orang, tetapi detail yang dia bubuhkan dan proses pengerjaan yang dia pilih menunjukan keputusan, kebiasaan, dan keberanian artistiknya sendiri. Apa yang dilakukannya bisa kita maknai sebagai upaya untuk mengabarkan pada kita bahwa pengalaman ketubuhan setiap manusia berbeda-beda. Sebab itulah, ia menjadikan manusia sebagai entitas Yang Unik. 

Dengan mengaitkan Bourdieu dan Stirner, Vestiges mengajukan pertanyaan kritis: sampai sejauh mana kita dibentuk oleh dunia luar dan sampai sejauh mana kita tetap berhak menegaskan diri kita sendiri? Rafif tidak menawarkan jawaban pasti, karena dia tahu tubuh selalu berada di antara dua tarikan: determinasi sosial dan Yang Unik. Namun justru di situlah letak kekuatan pameran ini. 

Vestiges menjadi medium percobaan kita untuk membaca tubuh lebih dari sekadar arsip habitus. Di luar itu semua, melalui karya-karya kanvas dan kertasnya, Rafif seolah ingin menegaskan pada kita: ini tubuhku, ini perjalananku, dan akhirnya inilah aku.

Balqis Nabila

vestiges

Katalog Vestiges