Menafsir Jejak – Gabrielle Maria Anna

Sebuah Catatan

Pameran ini berangkat dari pengalaman menghadapi perbedaan sejak masa kecil. Tubuh dan wajah sering menjadi objek penilaian yang membentuk cara lingkungan memahami saya, dan tanpa di sadari hal itu menimbulkan kebingungan dalam diri. Seiring waktu, kegemaran bepergian dan berjumpa dengan berbagai budaya membuka cara pandang baru tentang asal, tubuh, dan kebersamaan yang ternyata bersifat relatif dan selalu berubah. Setiap pertemuan menjadi cermin untuk mengenali diri.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika berada di Toraja. Di sana, budaya dan adat istiadat masih terjaga dengan kuat, dan setiap ritual punya makna yang dalam. Salah satu hal yang membuka perspektif saya adalah cara masyarakat Toraja memandang kematian. Bagi mereka, kematian bukan akhir, tapi awal dari perjalanan baru. Simbol “kematian” dalam karya saya terinspirasi dari pengalaman itu sebagai tanda perubahan, melepaskan yang lama untuk menemukan nirwana baru.

Lapisan warna dalam karya ini merekam perjalanan waktu, dari ruang asing hingga keasingan yang terasa akrab. Di sanalah refleksi dan negosiasi diri terjadi. Perjalanan ini juga jadi cara untuk menyambung kembali dengan cara anak-anak melihat dan merasakan dunia, saat pandangan tentang diri belum banyak terpengaruh dan masih akrab dengan diri sejati.

Gabrielle Maria Anna

Opening Note – Sumsum Gallery

Setahun lalu, sebuah pameran grup bertajuk Berdikari mengenalkan karya-karya Gabrielle Maria kepadaku. Waktu-waktu setelahnya, aku jadi akrab dengan namanya yang hilir mudik di linimasa, berbarengan dengan karyanya. Kembali pada malam itu di Soboman Art Space, aku melihatnya menenteng kayu-kayu, kanvas, gelas, dan sebagainya. Sibuk. Ia terlihat sibuk dengan dirinya sendiri di kala orang lain mencoba mempresentasikan karyanya pada pengunjung. Entah sibuk karena benar-benar sibuk, atau ia sedang mencoba mengalihkan pikirannya pada hal lain di luar pameran grupnya. Dengan wajah campuran, rasanya begitu judgemental-nya aku saat itu yang langsung membatin, “Pekerja keras. Khas Barat”.

Saat itu, masih di rentang 2024, karyanya banyak membicarakan tubuh, ingatan dan perasaannya sebagai perempuan, juga identitasnya sebagai masyarakat hibrid. Yang terakhir begitu kentara jika kita mengamati objek-objek yang diangkatnya adalah seorang eropa atau pasar malam seperti di film Euphoria, sedangkan aku tahu bahwa dia lahir dan besar di Kulonprogo dan fasih berbahasa Indonesia.

Tidak lama setelahnya, sepulangnya ia dari Italia, aku justru menemukan karya Gabrielle yang tidak lagi membicarakan perasaannya. Ia seolah telah selesai dan terlahir kembali dengan keingintahuan akan asal-muasalnya dengan tidak menggebu-gebu, tapi intens. Hal ini dikonfirmasinya sekitar seminggu sebelum pameran tunggalnya di Sumsum Gallery berlangsung.

Berangkat dengan menaiki kapal, ia menyusuri tanah Toraja lalu pulang dan mengikuti berderet ritual adat Jawa. Aku sebagai seorang pure blood Jawa agak tersindir karena Gabrielle jauh lebih mengenal Jawa. “Kenalilah akarmu,” begitu kata-katanya menderas di meja obrolan di Sumsum tanpa ragu, tanpa tercekat. Ada hasrat dan gairah yang bisa aku deteksi dari lakunya saat ini, untuk bertumpu pada satu identitas yang telah ia pilih, yang ia kenal akrab dalam udara pertama yang dihirupnya saat nol sekian detik baru lahir di dunia ini.

Identitas yang membawanya sebagai seorang pejalan dan pembelajar mengantarnya pada pameran tunggal pertamanya di Sumsum Gallery. Ketika dengan lancar Gabrielle mengatakan bahwa akan mengangkat tema perjalanan, kami langsung sepakat dan tidak bertanya mengapa. Seolah siang itu, di kontrakan sekaligus studionya, kami sama-sama paham kenapa dia mau membicarakan perjalanan.

Mungkin belum banyak desa–kota yang ia temui. Tapi atlasnya terbentang, berikut dengan jawaban akan pencariannya. Sumsum sebagai sebuah ruang turut bahagia karena mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk merekam perjalanan Gabrielle yang masih dan akan terus berlanjut.

Selamat menikmati, genggamlah kompasmu!

Balqis Nabila,
Sumsum Gallery

Menafsir jejak poster

Katalog Menafsir Jejak