Solstice – Vicky Saputra

Riki uses a gum oil printing process, developing the exploration and experimentation of his uni final project with the same technique. He is drawn to its inherent characteristic similarities to faded old photographs: grainy textures, partial focus, and also the human imperfections we can see in the traces of brushstrokes. Images emerge from the paper like half-remembered dreams, resisting sharp clarity evoking the subjective nature of memory.

Through fourteen new works in his first solo exhibition, Riki utilizes alternative photography to give emptiness a visible form. These works help us to reflect on what is partially lost from ourselves, which still lingers within us today and present themselves as questions that drive us to continuous search. Happy exhibiting and getting to know yourself better, Ki!

Sumsum Gallery kali ini dengan hangat mempersembahkan pameran tunggal dari Vicky Saputra dengan tajuk Solstice. Selama proses, kami banyak membahas mengenai teknik yang seniman gunakan, yang dalam pandangan kami terasa segar, unik, sekaligus akrab yang kerap luput dalam tangkapan sehari hari. Singkatnya Sumsum Gallery melihat sebuah kebaruan dalam pengkaryaan Vicky dalam pameran tunggalnya kali ini.

Pameran ini berangkat dari pertemuan langsung antara tubuh manusia, cahaya matahari, dan waktu. Dalam karya-karya yang dipamerkan seniman di sini, matahari tidak diposisikan sebagai objek yang direpresentasikan, melainkan sebagai medium aktif yang bekerja langsung di atas kertas dan kanvas.

Melalui teknik yang ia sebut ‘sunstroke’, Vicky menggambar dengan membakar permukaan karya menggunakan sinar matahari yang difokuskan melalui kaca pembesar. Cahaya beralih fungsi: dari sesuatu yang menerangi menjadi sesuatu yang meninggalkan jejak; energi yang tak kasatmata kemudian menjadi bentuk yang menetap. Judul Solstice sendiri merujuk pada momen astronomis ketika matahari mencapai titik ekstremnya dan seolah berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Dalam konteks pameran ini, solstice dipahami sebagai jeda. Ia adalah titik hening di antara dua gerak, antara terang dan redup, pula antara hadir dan lenyap.

Karya-karya Vicky bergerak dalam wilayah ini: garis-garis bakar dan lubang-lubang halus yang bukan hasil tekanan ‘langsung’ dari tangan, melainkan hasil dari durasi, panas, dan intensitas cahaya. Waktu bisa dikatakan adalah unit krusial dalam proses berkaryanya, sebab setiap jejak adalah rekaman dari proses yang tidak bisa diulang secara persis.

Teknik sunstroke ditemukan Vicky saat menjalani residensi di Cibubur, Depok dan terus dikembangkan setelahnya. Ketergantungan pada kondisi alam—cuaca, posisi matahari, dan kesabaran menunggu—membuat proses penciptaan menjadi dialog yang setara antara seniman dan lingkungan. Hal menarik lainnya dalam pengkaryaan seniman dengan teknik ini, adalah bagaimana ia melihat material yang tidak diperlakukan sebagai permukaan netral. Material justru diperlakukan sebagai tubuh yang gamblang. Sebab begitulah Vicky akhirnya minim menggunakan cairan-cairan kimia yang kerap diperuntukkan untuk menjaga materialnya. Seniman dengan sengaja membiarkan alam untuk ikut membentuk karyanya.

Mengapa Matahari?

Kedekatan Vicky dengan benda-benda langit telah hadir sejak masa kecil, ketika ia kerap menatap langit bersama ayahnya. Relasi ini tidak lahir dari pengetahuan astronomi yang sistematis. Pengalaman intim dan berulang seperti memandang cahaya, mengikuti pergerakan matahari, dan merasakan waktu melalui perubahan langit membentuk alam idenya. Dalam karya-karya di pameran ini, ingatan tersebut tidak tampil sebagai narasi personal, tetapi menjelma menjadi sensibilitas, membuatnya lebih peka pada cahaya, siklus, dan ketakterdugaan.

Selamat menikmati.
Sumsum Gallery

Solstice

Catalog Solstice