Our Location
Jalan Tirtodipuran, No. 15, Mantrijeron, Yogyakarta

Jejak cahaya yang tersisa sesaat setelah mata terpejam, betapapun abstrak dan berpola bentuknya, senantiasa menolak lenyap, sekalipun kita abaikan, ia tetap ada, di sana, dan menetap. Singkat, memang. Namun, momen itu seolah ingin bicara pada kita, kondisi ambang atau limbo berulang, tidak pernah bisa diprediksi bentuk dan citranya.
Seorang printmaker hidup bersama momen ambang atau limbo. Tidak seperti limbo dalam doktrin teologi atau kisah masyhur Dante Alighieri, tentang sebuah wilayah perbatasan antara surga dan neraka bagi manusia saleh sebelum kristus lahir atau bayi sebelum dibaptis. Momen limbo pada praktik seni cetak grafis merupakan ‘momen ambang’ ketika visual belum ada tapi sudah ditentukan melalui visualnya lewat matrik, karya cetak belum dapat dilihat tapi cetakan sudah terlihat meski tak sepenuhnya. Limbo adalah ontologi seni cetak grafis (printmaking ontology) sebagai modus kehadiran yang ambang dan menunda usai (ingin dicetak).
Trio Muharram memang jahil. Ia mendudukan kembali momen limbo pada praktik-praktik seni cetak grafis melalui seri linocut, thermal print, dan plaster print sekaligus menjernihkan pengertian dan status ontologi seni cetak grafis. Apa yang ia imani tentang seni cetak grafis adalah sembarang artefak sejauh aspek cetak. Trio tidak ragu mengambil molding (teknik cetak karya trimatra), thermal print (teknik cetak berbasis panas pada mesin tiket), dan setia pada konvensi lama (linocut), lalu merangkumnya menjadi kesatuan praktik cetak. Keputusan nyebrang ke praktik cetak lain atau sesuai konvensi justru menegaskan kembali bahwa ontologi seni cetak tersebar di berbagai praktik, dari berbau budaya tinggi maupun budaya massa-kapitalistik. Apakah ia masih seni cetak? Mungkin Trio acuh tak acuh.
Limbo di tangan Trio juga berarti prinsip berkesenian untuk terus menjadi ambang. Ketidakpeduliannya tentang anggapan seni cetak grafis yang sering dipandang terbelakang, kurang berkembang, mejen dan tidak taat konvensi dan aturan main justru menunjukkan kepedulian besarnya terhadap perluasan percakapan seni cetak grafis yang tetap terbuka pada kemungkinan barunya. Sebab Trio percaya bahwa seni cetak grafis tidak lagi terpatri pada material, teknik, maupun aliran tertentu, apapun yang sedang ia erami dan renungi ‘akan’ seni cetak grafis pada akhirnya.
Febrian Adinata Hasibuan
Melalui teknik yang ia sebut ‘sunstroke’, Vicky menggambar dengan membakar permukaan karya menggunakan sinar matahari yang difokuskan melalui kaca pembesar. Cahaya beralih fungsi: dari sesuatu yang menerangi menjadi sesuatu yang meninggalkan jejak; energi yang tak kasatmata kemudian menjadi bentuk yang menetap. Judul Solstice sendiri merujuk pada momen astronomis ketika matahari mencapai titik ekstremnya dan seolah berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Dalam konteks pameran ini, solstice dipahami sebagai jeda. Ia adalah titik hening di antara dua gerak, antara terang dan redup, pula antara hadir dan lenyap.
Karya-karya Vicky bergerak dalam wilayah ini: garis-garis bakar dan lubang-lubang halus yang bukan hasil tekanan ‘langsung’ dari tangan, melainkan hasil dari durasi, panas, dan intensitas cahaya. Waktu bisa dikatakan adalah unit krusial dalam proses berkaryanya, sebab setiap jejak adalah rekaman dari proses yang tidak bisa diulang secara persis.
Teknik sunstroke ditemukan Vicky saat menjalani residensi di Cibubur, Depok dan terus dikembangkan setelahnya. Kete
Mengapa Matahari?
Kedekatan Vicky dengan benda-benda langit telah hadir sejak masa kecil, ketika ia kerap menatap langit bersama ayahnya. Relasi ini tidak lahir dari pengetahuan astronomi yang sistematis. Pengalaman intim dan berula
Selamat menikmati.
Sumsum Gallery

Catalog Limbo