Our Location
Jalan Tirtodipuran, No. 15, Mantrijeron, Yogyakarta

Apa yang terjadi ketika sebuah garis tidak lagi dipahami sebagai alat untuk membentuk gambar, melainkan sebagai jejak dari sebuah proses berpikir? Dalam sejarah seni rupa, garis sering dipahami sebagai elemen paling mendasar. Ia mendahului bentuk, warna, bahkan representasi. Namun dalam praktik Bagus Prabowo, garis hadir bukan semata sebagai unsur formal, melainkan sebagai rekaman dari waktu yang dijalani secara berulang. Setiap tarikan, lengkungan, dan pengulangan menjadi penanda dari sebuah proses yang berlangsung perlahan, nyaris ritualistik.
Pameran Meditasi Garis berangkat dari ketertarikan seniman pada tindakan menggambar sebagai laku. Karya-karya yang ditampilkan tidak berupaya membangun ilusi ruang atau narasi tertentu. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada pengalaman mengulang, mengisi, dan menyusun garis demi garis hingga membentuk sebuah medan visual yang padat sekaligus hening. Dalam konteks ini, garis menjadi ruang perjumpaan antara tubuh, konsentrasi, dan durasi.
Meski menampilkan bahasa visual yang berbeda dari karya-karya Bagus sebelumnya, praktik repetitif yang telah lama menjadi bagian penting dari proses kreatifnya tetap terasa kuat. Pengulangan tidak diperlakukan sebagai mekanisme produksi, melainkan sebagai metode untuk mempertahankan perhatian. Setiap garis hadir sebagai hasil dari keputusan yang sama-sama sederhana sekaligus kompleks: untuk terus melanjutkan.
Melalui karya-karya ini, Bagus Prabowo mengajak kita melihat garis bukan sebagai batas yang memisahkan, melainkan sebagai jalur yang membuka kemungkinan. Garis menjadi medium untuk mengukur waktu, menata pengalaman, dan menghadirkan kesadaran terhadap proses yang sering kali luput dari perhatian. Pada titik inilah praktik menggambar bertransformasi menjadi sebuah bentuk meditasi.
Sumsum Gallery
2026

Catalog Meditasi Garis