Our Location
Jalan Tirtodipuran, No. 15, Mantrijeron, Yogyakarta

Tanah sebagai ibu. Ia bukan sekadar permukaan tempat berpijak, melainkan medium hidup yang menyerap dan menubuh bersama kita. Tanah menyerap air, cahaya, sisa-sisa kehidupan, bahkan kotoran manusia. Namun, dari semua yang diserapnya, tanah juga melahirkan sesuatu yang baru; tunas, rasa, tubuh, watak.
Pameran ini membaca ulang tanah sebagai bukan hanya entitas ekologis, tapi sebagai penyusun karakter, sebagai memori kolektif, sebagai cerminan tubuh itu sendiri. Dalam karya-karya abstrak dan ekspresif Mutiara Riswari, pengalaman akan tanah dan tubuh ditangkap bukan secara ilustratif, tapi secara intuitif dan emosional. Goresan, semburan warna, dan tekstur dalam karyanya tidak sekedar menggambarkan tanah, melainkan menyalurkan denyut dan daya serapnya. Ia memanggil kita untuk merasakan, bukan sekadar melihat.
Ekspresi-abstrak dalam karya Mutiara adalah bentuk dari hubungan yang tak terucapkan antara manusia dan tanah. Dalam gestur yang kasar atau lembut, berlapis atau tajam, kita bisa meraba keterikatan mendalam antara ruang hidup dan kondisi batin.
Tubuh kita, pada akhirnya, adalah lanjutan dari tanah itu sendiri. Ia membentuk cara kita merasa dan bertindak. Apa yang tumbuh dari tanah, masuk ke dalam tubuh, menjadi bagian dari daging dan darah. Dalam jangka panjang, kita pun akan kembali ke tanah, ditelan, diurai, dan dihidupkan kembali dalam bentuk lain.
Tubuh & tanah—keduanya menyerap, keduanya menubuh. Di sinilah muncul paralel yang dalam antara tanah dan perempuan: sama-sama memiliki daya serap yang besar, sama-sama mampu mentransformasi limbah menjadi kehidupan, sama-sama bisa memberi fondasi dan juga menghancurkan. Dalam karya-karya Mutiara, kekuatan ini hadir bukan dalam narasi yang tenang, melainkan dalam ledakan bentuk dan warna, dalam intensitas yang mencerminkan proses internal tubuh dan alam yang tak pernah berhenti menyerap dan bertransformasi.
Sumsum Gallery

Katalog Tubuh & Tanah: yang Menyerap, yang Menubuh




